Sedekah Tulisan

Cetak halaman ini

Oleh: Fahrur Mu’is
Penulis Sedekah Tanpa Uang

Empat tahun terakhir ini, saya seringkali menjadi ustadz dadakan alias pengisi pengganti. Karena ustadznya berhalangan, maka panitia minta tolong agar saya bersedia menggantinya. Dengan bersenjatakan kata “minta tolong” umumnya panitia menaklukkan hati saya.

Sebenarnya, saya tidak suka cara seperti itu. Mengapa? Karena menyampaikan sebuah materi pengajian bukan seperti jualan jamu. Ia perlu persiapan yang matang. Dalil kuat dan penyampaian memikat. Tapi, sayang—meskipun sudah sering saya sampaikan—hal ini kurang dipahami. Banyak orang yang menganggap bahwa ustadz menguasai materi apa saja. Diminta bicara apa pun juga bisa.

Itulah mengapa saya berniat menulis sebaik-baiknya, dan kalau bisa sebanyak-banyaknya. Menurut hemat saya, tulisan tersebut harus memiliki dalil yang kuat, penyampaian memikat, serta bahasa yang sederhana dan enak dibaca. Harapan saya, ketika diminta menjadi pemateri, saya tidak repot-repot mempersiapkan materi ke sana kemari. Tapi, tinggal menengok tulisan-tulisan saya dan kemudian langsung menyampaikannya. Ini yang pertama.

Kedua, saya ingin seluruh tulisan saya menjadi amal jariyah. Atau, minimal sebagai sedekah, baik bagi saya pribadi maupun orang lain. Bisakah tulisan menjadi sedekah? Mari kita simak sabda Nabi berikut ini:

“Pahala amalan dan kebaikan yang akan menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya ialah ilmu yang ia amalkan dan sebarkan, anak saleh yang ia tinggalkan, mushaf yang ia tinggalkan, masjid yang ia bangun, rumah untuk orang yang dalam perjalanan yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya di kala sehat dan hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya.” (HR Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahîhul Jâmi‘).

“Kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah” demikian Rasulullah mengajari kita dalam hadits riwayat Al-Bukhari.

Maka, bersedekahlah, meskipun dengan satu kata!

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under artikel

Sedekah Yang Menghajikan

Pak Asep, demikian ia dijuluki, membungkuk membenahi barang dagangannya. Dengan guratan-guratan tua di keningnya, wajahnya tetap kelihatan bening. Sejak setahun lalu kopiah putih selalu menghiasi kepalanya, menutupi rambutnya yang seluruhnya telah berwarna putih keperakan. “Alhamdulillah Jang, kadang-kadang sepi kadang-kadang ramai,” katanya menceritakan usahanya dengan bibir terus tersenyum.

Dalam usia yang ke 67 ini Pak Asep ditemani istrinya mengurus warung kelontong berukuran 3 kali 4 meter. Pak Asep dan istrinya tidak dikaruniai anak. Di usia yang senja mereka terlihat menikmati hidupnya. Toko kelontong yang ada di depan rumahnya yang ada di sebuah gang kecil di Bandung, itu jadi satu-satunya penopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

“Ini kenang-kenangan dari Mekkah, Jang,” menunjuk ke kopiah putihnya. Pak Asep dan Istrinya memang pergi ke Tanah Suci tahun lalu. “Dari dulu Bapak pingin pergi haji”, lanjutnya. Hal ini membuatnya berkomitmen untuk menabung sedikit-demi sedikit dari hasil penjualan barang-barang di warungnya. “Saya mah pokoknya niat pingin sekali pergi ke tanah suci,” lanjutnya.

Bertahun-tahun sudah tabungannya, sesekali dihitungnya sekedar untuk makin menguatkan keinginannya. “Kurang beberapa juta lagi, Nyi, cukup dah, beberapa tahun lagi, gak lama,” katanya kepada istrinya. Senyum Pak Asep dan istrinya merekah. Terbayang ia bersama istrinya akan berthawaf keliling mengucapkan talbiah, labbaik Allaahumma labbaik. Saat-saat yang dimpikannya bertahun-tahun, menyempurnakan rukun Islam, rindu di hari tuanya mendekat kepada Sang Khalik.

Dalam hari-hari semangatnya berhaji itu, tiba-tiba sampai di telinganya tetangganya masuk rumah sakit dan harus dioperasi. Para tetangga sebenarnya iuran mermbantu meringankan biaya rumah sakitnya. Tapi biaya operasi memang mahal.

Pak Asep tersentak. Terbayang olehnya uang tabungannya untuk biaya haji dapat membantu operasi tetangganya yang tak berpunya.
“Haji ibadah, sedekah juga ibadah, gak apa sedekahkan uang kita untuk berobat, Ki,” istrinya mendukung uang tabungannya bertahun-tahun itu diberikan untuk biaya tetangganya yang dioperasi di rumah sakit.

“Kang, terima ini ya, rezeki mah dari Allah, mungkin emang lewat saya, biarlah ini jadi jalan makin dekatku pada Allah, moga-moga cepet sembuh, kang,” katanya sambil menyerahkan amplop tebal uang tabungannya yang berbilang tahun itu. Dipeluknya Pak Asep dengan erat.

Sedikit yang tahu ketulusan Pak Asep dan istrinya ini. Ketika dokter yang merawat temannya ini heran dari mana ia bisa membiayai operasi yang mahal ini, maka sampailah cerita tentang uang tabungan haji Pak Asep ini.  ”Boleh saya dikenalkan sama Pak Asep, pak?” sambut sang dokter terharu.

Ditemuinya Pak Asep dan istrinya. Dan ditemuinya keteduhan seorang dermawan. Raut wajah yang kaya, meski dalam kesederhanaan hidup. “Pak Asep, saya ada rezeki, bolehkan saya ikut mendaftarkan bapak dan istri pergi haji bersama saya dan keluarga?” sang dokter menawarkan.

Pak Asep dan istriya sejenak berpandangan. Tak kuat lagi menahan haru, dipeluknya dokter dermawan tadi. “Allah Maha Kaya,” ucapnya lirih di telinga dokter.

Maka kakinya kemudian hadir di Baitullah, berhaji, dengan karunia dan rezeki dari Allah. Pak Asep dan istri seakan mereguk hidangan Allah yang sempurna, buah dari kedermawanannya.

Kisah Pak Asep mungkin saja banyak terjadi kehidupan kita. Pak Asep-Pak Asep lain pun telah menggores hikmah kehidupannya sendiri. Atau bahkan telah pula sering kita alami sendiri. Dan selalu saja sedekah akan menyuburkan hati kita, memberkahi kehidupan kita. Maka mengapa kita menunda sedekah kita?

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*

( TULISAN INI KIRIMAN DARI SEORANG SAHABAT, SEMOGA BERMANFAAT )

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under artikel

Kisah Tukang Ikan

Sumber: Trans TV

28 September 2006, menjelang buka puasa.

Ada seorang tukang ikan yang datang ke saya (ustadz X, lupa namanya). Dia minta amalan apa yang harus dilakukan agar bisa menambah modal sehingga akan menambah keuntungan. Tapi saya bilang,”Apakah dengan menambah modal, maka keuntungan Bapak akan bertambah?”. “Oh iya Pak Ustadz. Bagaimana mungkin, kalau modal tidak bertambah, tapi keuntungan bisa bertambah?” kata tukang ikan menimpali saya.
Kemudian saya katakan pada dia bahwa untuk menambah keuntungan, dia harus menambah syukur kepada Allah, yaitu dengan cara memberi sedekah kepada orang lain. “Pak Ustadz ini bagimana sih? Ya nanti, modal saya malah berkurang donk, bukannya bertambah?!”. Dia bingung rupanya dengan kata-kata saya tadi.
Karena saya tetap bersikeras tidak memberikan amalan khusus bagi dia, akhirnya dia pulang. Ketika dalam perjalan pulang, rupanya dia merenungkan ceramah saya tadi, dan kebetulan waktu tiba di rumah, anaknya yang masih kelas tiga SD bercerita bahwa ada temannya yang dipanggil gurunya karena tidak bisa membayar
SPP. “Bilangin sama temanmu itu, Bapak yang akan membayar SPP dia bulan ini,”kata tukang ikan ini kepada anaknya.
Esok harinya ketika teman anaknya nyamperin ke rumah, tukang ikan itu memberikan uang
SPP untuk satu bulan ditambah dengan uang lima ribu rupiah. Sesudah itu, seperti biasanya dia pergi untuk berjualan ke pasar.
Tidak ada yang istimewa saat dia berjualan di pasar. Yang ada malah seseorang meminjam motornya (tukang ikan ini punya motor). Nah, inilah rupanya janji dan kebesaran Allah. Ketika motor itu dikembalikan, sipeminjam berkata,”Pak ini motornya saya kembalikan. Bensin udah saya penuhi. Dan ini, uang lima puluh ribu untuk Bapak.”
Alhamdulillah …….
Ketika kita dengan ikhlas memberi kepada sesama, maka Allah akan memberikan rejeki dan pertolongan dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under artikel

Sedekah Membawa Berkah

Sumber: Kawanku (Huda)

Sudah banyak kisah tentang pertolongan Allah yang tidak disangka-sangka, ketika hambanya dengan ikhlas memberi kepada sesama.
Berikut adalah salah duanya.
Ada seorang pengusaha yang bangkrut krut. Semua kekayaannya habis, sehingga yang biasanya dia naik mobil mewah, sekarang naik Trans Jakarta. Ketika naik bis itu, dia iseng-iseng turun di Masjid Agung Al-Azhar (Sisingamangaraja, Kebayoran, dekat Blok M) untuk sholat. Kebetulan saat itu ada taushiah yang membahas tentang sedekah (shodaqoh). “Sekarang, siapa saja yang sedang mempunyai masalah, silahkan Bapak-Bapak untuk menyerahkan apa saja yang sedang dibawa ke sajadah ini,”kata Pak Penceramah. “Insya Allah, masalah Bapak akan segera teratasi,”kata dia selanjutnya.
Si Fulan ini, sempat ragu-ragu. Ah, apa iya ya? Akhirnya antara ya dan tidak, dia menyerahkan jam tangan satu-satunya seharga USD 3 ribu (sekitar 30 juta rupiah). Sesudah itu dia pulang.
Malamnya dia memperoleh SMS bahwa proposal dia sedang dipertimbangkan. Biasa, walaupun sudah bangkrut, dia masih berusaha terus untuk mendapatkan bisnis baru lagi.
Rupanya janji Allah memang tidak akan pernah dusta. Esok paginya, di rekening dia sudah ada uang masuk sebesar 3 MILYAR rupiah.
Masya Allah ….

Ini kisah kedua.
Ada seorang yang sangat ingin membangun rumah (dia masih kontrak). Karena dia tidak punya uang cukup, maka dia berniat untuk selalu bersedekah secara terus-menerus. Sedekah ini khusus dia niatkan agar Allah memberikan rumah untuknya. Sampai ketika sedekah yang dia berikan sudah mencapai sekitar sepuluh juta, dia kedatangan familinya yang kaya raya. Kebetulan waktu itu musim hujan. Rumah kontrakannya banyak yang bocor, dan rupanya familinya ini menaruh perhatian. “Kok banyak sekali kontrakan ini bocornya ya. Mau enggak saya buatkan rumah?”kata familinya tiba-tiba.
Masya Allah, akhirnya dia dibuatkan rumah seharga 100 JUTA rupiah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under artikel

Saat Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Dewi Arta – Okezone

MERASAKAN indahnya jatuh cinta pasti sangat menyenangkan, terutama bila sang pujaan hati memiliki perasaan dan keinginan yang sama untuk membina sebuah hubungan. Tapi bagaimana jadinya bila si dia justru tidak memiliki perasaan yang sama, bahkan hanya menganggap jalinan hubungan yang telah terbina sebatas persahabatan saja?

Saat cinta bertepuk sebelah tangan, tentu terasa pahit. Untuk menyiasati hal tersebut, Health24 memaparkan beberapa langkah yang dapat dilakukan, di antaranya:

Kenali si dia lebih dalam

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah mengenal sang pujaan hati lebih dalam lagi. Untuk itu, Anda harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang si dia. Baik melalui lingkungan yang berada di sekitarnya atau pembicaraan lansung. Karena dari informasi yang diperoleh dapat membantu Anda melangkah ke tahap selanjutnya.

Jangan terlalu yakin

Bila ditelaah lebih jauh ternyata si dia memiliki perhatian khusus pada Anda, tetapi bukan berarti dia menyukai Anda. Kadang kaum pria sering salah mengartikan perhatian yang diberikan oleh kaum hawa, dan mereka harus menelan pil pahit ketika mengetahui Anda hanya menganggapnya sebagai teman. Anda pun harus menerima takdir cinta ditolak olehnya.

Jangan terburu-buru menyatakan perasaan

Ada baiknya Anda menentukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan. Namun bukan berarti semakin cepat Anda menyatakannya, maka semakin besar kesempatan yang dimiliki untuk merajut cinta dengan si dia.

Justru yang harus dijadikan tolok ukur adalah kedekatan Anda dan sang pujaan hati. Jika dia belum juga memberikan sinyal-sinyal tertentu, ada baiknya Anda mengurungkan niat untuk menyatakan perasaan padanya.

Minta pendapat dari lingkungan sekitar atau teman

Jangan langsung terburu-buru menyatakan perasaan Anda padanya, tapi tak ada salahnya Anda mendengarkan pendapat dari sahabat mengenai waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hati. Anda pun sebaiknya menunggu sejenak sinyal yang diberikannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Selamat mencoba… (nsa)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under artikel

Curhat, Awal dari Perselingkuhan

Tuty Ocktaviany – Okezone

BERBAGI cerita dengan rekan kerja memang terkadang menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi beban yang terpendam dalam hati. Sharing, curhat, hanyalah sebagai pelampiasan kekesalan yang kadang tidak bisa dengan mudah kita utarakan kepada keluarga, suami atau istri.

Curhat dengan rekan kerja wanita? Hmmm, bukan hal yang luar biasa, namun efek dari curhatnya yang bisa luar biasa. Berawal dari desah lelah, atau gumam kesal lalu disambut dengan pertanyaan ramah. “Kenapa? Kesal ya? Cerita aja biar kamu lega” akan terdengar sebagai sentuhan segar.

Kalau beruntung bisa menemukan teman berbagi yang cocok, bukan tidak jarang berlanjut jadi teman makan siang, lalu makan malam, dan teman bermalam minggu. Teman curhat yang merupakan lawan jenis, akan membuat Anda terperangkap dalam konsep, soulmate.

Dia akan menjadi pendengar yang baik buat Anda. Apalagi kalau memberikan tanggapan sesuai dengan keinginan Anda. Lalu Anda jatuh cinta. Sah-sah aja, asal jangan ada yang menanti di rumah (anak & istri).

Pria-pria yang sudah mantap berpikir, bisa menjaga untuk tidak terjerumus dalam sebuah perselingkuhan secara fisik, tapi apakah perselingkuhan emosi juga bisa dicegah. Ya, memang bukan melulu jadi konsumsi pria, wanita pun mampu demikian.

Ada pakar psikolog Amerika yang menyatakan bahwa selingkuh harus terdari dari 3 komponen, keintiman emosional yang melebihi perkawinannya, getaran seksual, dan kerahasiaan. Atau dengan kata lain, persahabatan menjadi pelampiasan perkawinan bahkan menggeser kedudukan lembaga perkawinan itu sendiri.

Kantor merupakan sumber terbesar dari sebuah emotional infidelity, demikian beberapa pendapat mengatakan. Sekalipun tidak harus mencapai titik di mana seks terlibat di dalamnya, tapi bagi mereka yang sudah berkeluarga dan terlibat dalam emotional infidelity, sudah merupakan sebuah pergeseran nilai.

Berikut adalah 10 tips untuk menghindari emotional infidelity:

1. Urusan kantor cukup diselesaikan di kantor.
2. Hindari “copy darat” dengan rekan kerja wanita.
3. Bertemulah dalam kelompok jangan “one on one”.
4. Cari pilihan kata yang baik untuk mengakhiri sebuah pembicaraan yang bersifat pribadi.
5. Jangan membicarakan masalah pribadi di luar jam kantor.
6. Jangan berbagi perasaan sembarangan kepada orang lain.
7. Jujurlah pada diri sendiri.
8. Hindari sentuhan fisik dengan rekan wanita Anda.
9. Jangan mabuk saat bersama rekan wanita (di luar jam kantor).
10. Tunjukkan komitmen kepada pasangan, setiap hari.
11. Mengenali diri Anda sendiri, apa yang Anda inginkan dan selalu bersyukurkan atas apa yang Anda miliki. (problem-anda)

(tty)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under artikel

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Komentar

Filed under Uncategorized